Pemerintah mengatakan bagaimana banjir terjadi?
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada Minggu (21/7) air yang meluap dari Sungai Kobe di Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, menyebabkan banjir.
Menurut Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, “hal ini dipicu oleh intensitas hujan yang sangat tinggi yang mengguyur wilayah Provinsi Maluku Utara sejak Sabtu (20/7).
Adanya air pasang laut di daerah tersebut memperparah banjir. Muka air mencapai satu meter.
Abdul menyatakan bahwa tidak ada orang yang terbunuh dalam banjir ini. Karena hanya satu kecamatan yang terkena dampak, banjir Halmahera Tengah tidak dianggap sebagai bencana nasional.
Abdul mengatakan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memiliki kemampuan untuk menangani bencana sesuai https://www.abangrock.com/ dengan kemampuan mereka. Dia menyatakan bahwa BPBD Halmahera Tengah terus melakukan tindakan penanganan darurat, seperti evakuasi warga yang terdampak, pendataan korban, dan penyelidikan cepat kerugian materil.
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Agus Cahyono Adi, menyatakan bahwa banjir yang melanda sejumlah desa di Halmahera Tengah disebabkan oleh cuaca.
Pada Rabu (25/07), Agus Cahyono menyatakan, «Dari pemantauan lapangan dan keterangan BMKG [Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika], pada saat itu ada cuaca ekstrim.»
Sebuah laporan BMKG yang dirujuk oleh Kementerian ESDM menyatakan bahwa luapan Sungai Kobe menyebabkan banjir besar di Weda, Halmahera Tengah, yang terjadi pada Minggu (21/07) dan berlanjut hingga Selasa.
Data BMKG menunjukkan bahwa dua siklon tropis, Gaemi dan Prapiroon, diduga berkontribusi pada banjir.
«Tiga hari minum air hujan.»
Ibu rumah tangga asal Ambon,Rani, berusia 32 tahun, telah tinggal di Desa Woejerana di Weda Tengah, Halmahera Tengah, selama sembilan bulan.
Dia mengatakan bahwa keluarganya sudah tidur saat seseorang menggedor pintu rumahnya karena banjir pada hari Sabtu (20/7).
Kami lari ke masjid untuk mengungsi. Kami tetap terjaga sampai pukul setengah dua pagi pada malam itu. Sementara saya tidak terlalu panik, karena ada anak, saya menjadi. Karena di jalan besar airnya sudah setinggi pinggang orang dewasa,” kata Rani, yang terpaksa menggendong anaknya dan membawa dokumen penting yang masih bisa diselamatkan.
Meskipun demikian, Yarden Koke, yang berusia 38 tahun dan tinggal di Desa Kulo Jaya, Kecamatan Weda Tengah, Halmahera Tengah, terkejut dengan banjir yang tiba-tiba terjadi pada Sabtu (20/07) tengah malam.
Yarden mengatakan bahwa dia dan keluarganya tidak bisa bergegas ke tempat-tempat yang tidak terjangkau air karena «sudah tergenang semua», dan karena rumah adat mereka berbentuk rumah panggung, mereka dapat bertahan selama tiga hari.
Anggota masyarakat adat Yarden berkata kepada wartawan Adlun, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia pada Kamis (25/07), «Untung saja lantai kami tidak tergenang.»
Menurutnya, selama tiga hari mereka mengaku «setengah mati» mencari air. Mereka bahkan tidak dapat membeli air galon karena depot air di daerah tersebut juga tenggelam oleh banjir.
No responses yet